Mungkin sudah banyak komikus atau studio komik yang mengurungkan niatnya untuk menerbitkan buku komiknya secara wirausaha atau indi. Karena sudah ada info penerbit komik indi yang dikecewakan distributor, malah terburuknya sampai tertipu. Dan yang paling utamanya karena distributor resmi belum ada yang mau total mendukung komik Indonesia. Jadilah potongan harga yang cukup besar ditetapkan distributor, sama dengan mereka menangani distribusi buku untuk semua penerbit. Tidak bisa disalahkan karena itu adalah bisnis. Tapi produsen komik Indonesia juga sangat memimpikan distribusi yang mendukung dengan sangat baik kelancaran beredarnya buku komik Indoensia. Apakah komunitas komik yang bermunculan di seluruh nusantara bisa diandalkan untuk ini?
Dimulai dari Ikasti yang sudah menjadi sejarah oraganisasi komikus Indonesia. Dilanjutkan dengan MKI di era tahun 90an, dan di tahun 2000an ini selain yang bisa ditemukan webnya di internet, mungkin ada juga yang luput tidak terdata. Tapi sepertinya masih belum ada yang berani menjadikannya sebagai oragisnasi yang mengingkat keanggotaannya… Sehingga kecairannya menghasilkan beberapa masalah, terutama dengan pendistribusian atau penjualan komik. Sampai mungkin ada satu atau dua produsen komik yang mengalaminya akan mencoret kebaikan komunitas tersebut. Ya, kepercayaan sama dengan profesionalisme komunitas yang bisa menjadi modal untuk mengikat keanggotannya. Dan anggotannya pun akan bersedia, dan malah bertambah banyak, karena ada keuntungan dan rasa percaya dan aman kepada pengurus komunitasnya.
Komunitas komik sebenarnya gak hanya bisa menjadi distributor, malah semua lini. Dari menjadi produsen, sekolah komik, penerbit komik, toko buku, taman bacaan, dan lainnya yang berkaitan dengan komik bisa dimunculkan. Tapi membuat dan memulainya itu tidaklah mudah, terlebih lagi menjaga dan memelihara kestabilan komunitasnya. Komik sangat besar postensinya untuk menghasilkan banyak jiwa wirausahawan, seperti usaha yang disebutakan di atas. Memulainya gak mungkin langsung semua lini usaha beridiri, bisa satu per satu berdasar kondisi dan kesiapan komunitas. Dan mungkin langkah awal, selain tempat dan pengurus yang solid, juga modal usaha yang terus berkembang. Mungkin sistem koperasi juga bisa dimasukin ke sini.
Komunitas komik jadi distributor sangat bisa sekali, kalau sudah mempunyai modal dan tempat. Dan apakah ini mungkin bisa disebut salah satau usaha pembangunan relnya industri komik yang sering disebut oleh pengamat komik di milis dan forum komik di internet? Kalau membayangkan setiap komunitas di seluruh nusantara berhasil memasuki tahap sebagai komunitas yang sudah menghasilkan banyak lini usaha, khususnya distribusi dengan baik. Mungkin produksi komik akan terus bertambah. Selain keterkaitan antar komunitas dalam mendistribusikan komiknya, juga bisa memberikan pelayanan lebih untuk toko buku, taman bacaan, cosplayer dan pembaca komik. Komunitas komik bisa memotong setengah harga dibanding komik terjemahan. Dan juga bisa memberikan diskon yang terbaik buat pembacanya. Mungkin selain ada usaha menggeserkan komik terjemahan secara nyata, kebingungan produsen komik pun hilang, yang muncul adalah rasa nyaman dalam memproduksi komik yang tetap terjaga. Dan untuk taman bacaan bisa membuat aturan seperti rental film di mana komik baru dibuat waktu kemunculannya dengan baik, dan juga harganya. Dan lebih dari itu mungkin ikut menghiasi toko buku dan taman bacaan dengan karakter dan poster komik lokal.
Untuk saat ini yang bisa dilakukan oleh produsen komik indi adalah dengan menitip ke toko buku dengan sistem konsinyuasi. Prosentase nya bisa didiskusikan dengan toko buku tersebut. Atau menjual sendiri dengan membuat toko buku online atau dengan mengikuti acara komik. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan... Kalau ingin mencari distributor, kalau produsen komik rajin membeli atau mengikuti komik Indonesia yang terbit, beberapa di antaranya mencantumkan info distributornya. Khusunya komik dari penerbit yang terdaftar di IKAPI tak jarang mereka selain sebagai penerbit sekaligus distributor, jadi tinggal menghubunginya. Tapi sebenarnya ada komunitas komik yang sudah mencoba menjadi penjual komik selain dijual di tempatnya juga di acara komik, tapi masih kurang informasi dalam hal mempromosikan aktifitasnya tersebut.
Itu semua juga masih merupakan impian dari PragatComic, dan juga sekaligus kritikan bagi kami sendiri. Laporan penjualan komik dari sebulan sekali menjadi dua bulan sekali, ya, karena toko online mungkin tak sebaik toko buku yang bisa dikunjungi langsung, tempatnya startegis, dan besar. Tapi dari kekurangan toko online selalu ada kelebihannya. Usaha PragatComic dengan membuat kartun penggemar cergam, adalah satu yang bisa dilakukan untuk pelayanan bagi pembelinya. Dan entah idea pa lagi yang muncul dari perkembangan di media internet. Ok, semoga semua komunitas terus bermunculan dan menjadi tempat lahirnya wirausaha yang terpecaya demi perkembangan komik Indonesia yang semakin baik.
http://pragatcomic.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar