TURUNNYA permintaan (slowdown) berbagai komoditas di pasar global sudah menggejala sejak beberapa bulan lalu. Penyebab utamanya adalah lonjakan harga energi khususnya minyak yang begitu irasional. Dari level 60-an dolar AS melonjak konstan hingga sedikit di bawah level 150 dolar AS per barel. Biaya produksi pun membengkak, sehingga harga melonjak. Lonjakan harga itulah yang menarik turun kurva permintaan. Permintaan berpotensi untuk pulih manakala harga energi mulai turun. Namun, proses penurunan harga energi itu gagal memulihkan konsumsi karena dunia dirundung masalah serius akibat "ledakan" krisis finansial global yang bermuara di Amerika Serikat (AS). Kebangkrutan dan kekeringan likuiditas sektor keuangan serta sistem perbankan di Eropa dan AS mengakibatkan kegiatan industri dan perdagangan terganggu hingga kini. Volume permintaan di pasar global pun anjlok. Belum ada yang tahu sampai kapan situasi seperti sekarang ini akan berlangsung. Kecenderungan seperti ini sudah pasti menghadirkan dampak negatif bagi Indonesia. Soalnya, AS dan Eropa justru menjadi tujuan utama sejumlah komoditi ekpor. Krisis yang melanda dua kawasan itu tentu saja menjadi pukulan bagi para produsen eksportir di dalam negeri. Sebanyak enam sektor perdagangan terancam pembatalan ekspor akibat mangkirnya para importir negara tujuan ekspor. Sektor itu antara lain produk komoditas crude palm oil (CPO), karet, tekstil dan produk tekstil (TPT), hasil laut khususnya udang, furnitur, dan alas kaki. Pembatalan ekspor disebabkan beberapa hal. Ada yang disebabkan penurunan harga sangat tajam. Kontrak awal dengan harga sekarang sudah jauh berbeda. Untuk produk manufaktur dan ikan lebih disebabkan turunnya daya beli konsumen di negara tujuan ekspor. Untuk produk TPT, meski belum mengalami pengingkaran kontrak, namun belum ada order untuk tahun 2009. Konyol kalau kita tidak segera mencari jalan keluar. Ekstremnya, sektor riil kita akan terperangkap pada kelesuan yang berkepanjangan. Sebab, produsen eksportir kita akan "dipaksa" menunggu sampai permintaan di AS dan Eropa pulih. Selama menunggu itulah yang dikhawatirkan akan mendorong para produsen eksportir melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan para pekerja. Kita berharap saja hal itu tidak terjadi. Itu sebabnya, jalan keluar dari kebuntuan itu harus segera dicari. Mencari dan menggarap pasar baru, di tengah lesunya permintaan dari AS dan Eropa, adalah kegiatan produktif. Kita terlalu berorientasi pada dua kawasan itu. Pada saat yang sama, kita seperti kurang peduli dengan kawasan lain yang juga potensial, seperti Amerika Latin, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Kita dorong pemerintah dan dunia usaha untuk segera menjajagi pasar di beberapa kawasan itu. Barangkali, tidak semuanya prospektif. Tetapi dalam jangka dekat ini, kita bisa mendapatkan ruang pasar baru jika mau bekerja lebih keras. Pemerintah ingin menggunakan dana Rp 10 triliun dari hasil penghematan BBM untuk membantu sektor riil. Digunakan untuk apa dana sebesar itu oleh sektor riil? Upayakan agar dana ini digunakan tepat sasaran. Dalam situasi seperti sekarang, lebih efektif jika dana itu digunakan untuk mencari, menggarap, dan berpromosi di area tujuan ekspor yang baru. Sekarang adalah momentum yang tepat untuk mencari pasar baru produk ekspor kita. Industri TPT dan alas kaki mestinya tidak mengalami tekanan terlalu berat jika daya beli atau konsumsi dalam negeri tidak terlalu lemah seperti sekarang. Salah satu solusi mengangkat daya beli rakyat adalah menurunkan harga BBM bersubsidi. Dengan daya beli yang sedikit menguat, industri TPT dan alas kaki yang selama ini berorientasi ekspor bisa mengalihkan tujuannya dengan melayani permintaan dalam negeri. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar